Terdakwa korupsi APBD Toraja, CL Palimbong nyaris pingsan di persidangan. Memang sejak pertama kali memasuki ruang sidang wajah terdakwa terlihat pucat lesi.Melihat kondisi terdakwa yang kurang sehat, Jaksa Penuntut Umum Yeni Andriani, Desti Rerung dan Akbar SH meminta ke Majelis Hakim Syarifuddin Umar agar persidangan ditunda.
Rencananya agenda persidangan terdakwa adalah pemeriksaan saksi meringankan yang khusus untuk terdakwa. Namun, saksi tersebut tidak datang di persidangan. Dengan alasan itu pula persidangan terpaksa ditunda hingga 27 Maret 2008.
Penasihat Hukum terdakwa, Samuel Paembonan, membenarkan kalau kondisi kliennya memang kurang sehat. "Sejak awal saya sudah menyarankan agar terdakwa istirahat saja, namun ia tetap ngotot untuk mengikuti persidangan,''tandasnya.
Samuel mengatakan bahwa memang ada gangguan penyakit, jadi rencananya pada pemeriksan mendatang, setelah pemeriksaan saksi meringankan langsung juga digelar pemeriksaan terdakwa.
Dalam kasus ini terdakwa CL Palimbong didakwa melakukan tindak pidana korupsi dalam hal penyalahgunaan anggaran APBD 2004-2005 untuk empat item.
Masing-masing dana tak terduga, dana parpol, dana kemasyarakatan dan dana penghubung. Keempat item dana itu diduga diselewengkan terdakwa bersama Bupati Toraja Johanis Amping Situru dan wakilnya AP Popang. Berkas kedua terdakwa itu masih di Kejati Sulsel.
Wednesday, April 9, 2008
Palimbong Pucat Sidang Ditunda
Amping Depak Kepala Bappeda Tana Toraja
Mutasi mendadak yang digelar Bupati Tana Toraja, Johannis Amping Situru, "memakan" korban. Niko Biringkanae terdepak dari posisinya sebagai kepala Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Tana Toraja. Terdepak, Niko tidak mendapat jabatan apapun.Sabtu lalu, Amping melakukan pergeseran pejabat di lingkup Pemkab Tana Toraja. Mutasi ini terkesan mendadak. Sebelumnya, tak ada isu yang berkembang jika ada mutasi pejabat di bulan ini.
Dalam pengumuman mutasi, Amping menunjuk Rosiana Paallaoan sebagai kepala Bappeda. Sebelumnya, Rosiana adalah Kepala Badan Kepegawaian Daerah (BKD).
Selain Niko, beberapa pejabat eselon dua ikut bergeser.
Seperti Yt Tinno yang digeser dari posisi kepala Bawasda. Namun Tinno msih bernasib baik sebab dimutasi menjadi asisten pemerintahan.
Mutasi ala Amping ini mendapat sorotan dari warga. Ketua Partai Demokrasi Pembaharuan (PDP) Tana Toraja, Aris Pongpalilu mengatakan, nuansa politik sangat kuat terkait penonaktifan Niko.
Aris menilai, selama ini Niko tidak pernah bebruat salah dan melakukan pelanggaran terkait dnegan jabatannya. Namun mengejutkan, tiba-tiba Niko dicopot dari posisinya dan tidak mendapat jabatan apa-apa sesuai eselonnya.
"Apakah Niko pernah bebruat salah? Saya melihat lebih pada perbedaan sikap antara bupati dengan kepala Bappeda pada saat pemilihan gubernur lalu. Kalau dari segi kepangkatan, Niko pejabat yang paling cocok di Bappeda," ujar Aris, akhir pekan lalu.
Niko yang dikonfirmasi melalui telepon selulernyaenggan berkomentar. Begitupun dengan Sekretaris Kabupaten (Sekkab) Tana Toraja, YS Dalipang. Sekkab adalah ketua Bapperjakat.
Tuesday, April 8, 2008
+Psikologi Situasi+
Suatu hari anda tersesat ketika sedang melakukan travelling. Hari
sudah malam, dan tidak ada pilihan lain anda harus mencari tempat
berteduh di sebuah pondok. Pemilik pondok mengatakan bahwa semua kamarnya ada hantunya. Kamar manakah yg Anda pilih ?
A. Ada kepala manusia yg memandang dengan penuh kedengkian dari
luar jendela kamar.
B. Pintu kamar mandinya membuka dan menutup sendiri, dan juga
terdengar rintihan suara2 seorang wanita .
C. Tempat tidurnya bergerak sendiri setiap kali anda ingin mencoba
tidur diatasnya.
D. "Hantu tanpa kepala" duduk di bagian kaki tempat tidur Anda
ketika Anda terbangun di tengah malam.
PILIH SALAH SATU JAWABAN SEKARANG!!
SEBELUM ANDA GESER KE BAWAH UNTUK PENJELASANNYA
Type Anda :
A. Anda membutuhkan banyak privasi dan cocok bekerja sendirian.
Anda menginginkan pekerjaan yang stabil - sebuah pekerjaan yang tidak mudah terpengaruh faktor eksternal dan memberikan gaji yg pasti. misal: dokter, pengacara, guru, administrator.
B. Anda lebih menginginkan pekerjaan yg tidak perlu bepergian dan
bertemu dgn orang. Anda lebih memilih bekerja dalam tekanan boss Anda,jika itu memungkinkan Anda utk duduk di dalam kantor ber-AC sepanjang hari. misal: pegawai negeri, engineer, computer engineer, akuntan
C. Anda orang aktif yg tidak dapat duduk diam dan tidak suka
dibatasi.Anda mudah beradaptasi dengan pekerjaan yang berubah-ubah dan tidak bersifat rutin. misal: marketing, insurance, sales, sopir.
D. Anda cocok dgn pekerjaan yang memerlukan Anda utk bertemu orang,terutama kerumunan. Pekerjaan anda tergantung dari orang2 ini, tp anda tidak mengenal mereka. misal: artis, politisi, PR, resepsionis.
Tuesday, January 29, 2008
Konflik Antar-Etnis Mahasiswa, Mengapa Masih Terjadi? 1
SUDAH 60 tahun lebih bangsa Indonesia memproklamasikan kemerdekaannya, tetapi mengapa konflik antar-etnis masih juga terjadi? Ironisnya, konflik antar-etnis tersebut terjadi di kalangan mahasiswa, kelompok anak bangsa yang 80 tahun lalu mengumandangkan Sumpah Pemuda. Ironisnya lagi, peristiwa itu terjadi di Yogyakarta, sebuah kota budaya dan kota pendidikan yang selama ini dikenal sebagai miniatur Indonesia dan tempat persemaian multikulturalisme.
Catatan yang dibuat berdasarkan pemberitaan media massa dan juga sejumlah penelitian sosial dari lingkungan perguruan tinggi, memperlihatkan adanya pola yang berulang. Pertama, konflik meletup hanya karena penyebab yang sangat sepele. Hampir semua konflik antar-etnis mahasiswa di Yogya disebabkan oleh kesalahpahaman belaka. Kedua, konflik terjadi antara: (a) kelompok mahasiswa pendatang dengan penduduk asli, (b) kelompok mahasiswa pendatang dari suatu daerah atau suatu etnis dengan kelompok mahasiswa dari daerah/etnis lain, (c) kelompok mahasiswa pendatang dengan kelompok profesi tertentu (misalnya pengemudi becak).
Sebuah temuan menarik, konflik antar-etnis justru sangat jarang terjadi antara kelompok mahasiswa asli Yogya - dan juga Jateng - dengan kelompok mahasiswa dari etnis lain dari luar Jateng-DIY. Kalaupun kadang-kadang terjadi konflik antar-etnis dari luar Jateng-DIY dengan kelompok mahasiswa asli Yogya atau Jateng, biasanya tidak berkembang menjadi konflik dalam skala cukup besar, misalnya dalam bentuk pengrusakan-pengrusakan. Pada umumnya penyebabnya pun hanya berupa gesekan-gesekan kecil, seperti saat pertandingan olahraga.
bersambung...
Asrama: Biang Keladi?? 2 (end)
Berdasarkan temuan di lapangan, kelompok mahasiswa dari etnis yang terlibat konflik ternyata salah satu pihak kedua-duanya bertempat tinggal di asrama. Dengan fakta tersebut banyak pihak langsung menyimpulkan bahwa keberadaan asrama mahasiswa daerah memiliki kontribusi terhadap potensi antar-etnis. Keberadaan asrama mahasiswa cenderung menghambat proses akulturasi di kalangan mahasiswa dari suatu daerah/ etnis dengan masyarakat setempat maupun dengan mahasiswa dari daerah/etnis lain. Oleh karena itu keberadaan asrama mahasiswa daerah di Yogya yang jumlahnya cukup banyak, pernah dievaluasi, bahkan kalau perlu, direvitalisasi.
Tentang keberadaan asrama mahasiswa daerah sebagai salah satu penghambat proses akulturasi tentu saja tidak sepenuhnya benar. Hal itu sangat tergantung dari kebijakan yang diberlakukan pengelola asrama. Terbukti lebih banyak asrama mahasiswa daerah yang justru mampu mengarahkan penghuninya untuk berakulturasi dengan lingkungan setempat. Tetapi secara jujur memang harus diakui, keberadaan asrama mahasiswa daerah agak bertentangan dengan semangat Sumpah Pemuda.
Kalaupun keberadaan asrama mahasiswa daerah hendak dipertahankan, perlu diadakan revitalisasi. Idealnya asrama mahasiswa daerah tidak hanya dihuni oleh etnis tertentu. Asrama mahasiswa daerah harus dihuni juga oleh semua etnis yang ada di daerah pemilik asrama. Bukan rahasia lagi, banyak asrama mahasiswa daerah yang dimonopoli oleh etnis tertentu dari daerah pemilik.
Bentuk revitalisasi lain, sebagaimana diusulkan Walikota Yogya Herry Zudianto, asrama mahasiswa daerah selain dijadikan tempat hunian mahasiswa daerah, juga dijadikan pusat informasi sekaligus pusat studi mengenai daerah pemilik. Dengan tempat itu bisa dijadikan tempat pertama (Jawa: jujugan) siapapun yang ingin mengetahui hal ihwal mengenai daerah pemilik asrama, baik menyangkut aspek budaya, ekonomi, potensi daerah dan aspek lainnya..
oleh : S Soeprapto, Alumnus FIB UGM dan Prodi Ketahanan Nasional Sekolah Pascasarjana UGM.
The smilling JenderaL

Minggu ini hampir di semua stasiun televisi sibuk memberitakan mengenai wafatnya Bapak Pembangunan Indonesia, H.M Soeharto. Beliau wafat dalam usia yang ke-87 tahun di Rumah Sakit Pusat Pertamina pada pukul 13.10 WIB. Berbagai rekaman mengenai kisah Pak Harto mulai ditayangkan selama ia menjabat sebagai presiden. Beliau yang merupakan presiden Republik Indonesia yang kedua menggantikan presiden pertama Soekarno, lahir 87 tahun yang lalu. Beliau juga menikahi seorang perempuan yang telah menjadi teman semasa kecilnya dulu di daerah Surakarta.
Kisah cinta Pak Harto ini seperti kisah sinetron sekarang ini, di mana Pak Harto berasal dari keluarga miskin sementara gadis yang bernama Tien itu berasal dari keluarga kaya. Soeharto sempat pesimis untuk mendapatkan cinta ibu Tien karena beliau khawatir keluarga Ibu Tien menolak apabila anak putrinya harus berpasangan dengan Soeharto yang berasal dari miskin. Ibu Tien, seperti kita ketahui telah meninggal dunia pada tahun 1996 melalui kematiannya yang sangat kontroversial (Ada versi yang mengatakan bahwa beliau tewas ditembak di kebun bunga milik Ibu Tien pada pagi hari, tetapi versi lain menyebutkan bahwa beliau meninggal karena sakit). Pak Harto menikah pada usia 26 tahun dan ibu Tien 24 tahun (cuitt cuitt cuitt)..
Pada tahun 1998,beliau melepaskan jabatannya sebagai Presiden atas desakan berbagai kalangan terutama mahasiswa.Kiprahnya sebagai presiden sangat baik sekali,mulai dari pembangunan yang terjadi di mana-mana dan sektor pertanian yang juga ia kembangkan.Namun sayang,pada tahun 1998 ia dituduh melakukan tindak korupsi,yang sampai sekarang belum ada pengadilannya.Bahkan dari pernyataan Mbak Tutut sesaat setelah beliau wafat,tidak ada permintaan maaf mengenai masalah tersebut!! Di dalam konferensi persnya Mbak Tutut hanya meminta maaf karena selama Sang Jenderal tersebut dirawat di rumah sakit, tidak semua orang bisa menjenguk beliau.
Soeharto juga pernah memutuskan hubungan diplomatik dengan China, hal tersebut sangat disayangkan oleh berbagai pihak terutama dari kalangan keturunan China di Indonesia (tionghoa). Beliau melakukan hal tersebut pada tahun 1966, karena H.M Soeharto takut akan adanya bahaya komunisme yang dibawa oleh pedagang China dan membahayakan Rakyat Indonesia sendiri.Pemutusan hubungan tersebut juga mengakibatkan adanya diskriminasi pada warga keturunan China di Indonesia.
Soooo,marilah kita mengenang yang baik dari beliau. Kita tidak perlu menghakimi apalagi menuduhkan sesuatu yang kita sendiri tidak tahu faktanya…
Sekali lagi,selamat jalan Pak HArto! The smilling Jenderal kini tinggal nama…
Sunday, January 27, 2008
Pemekaran Daerah Bisa Ganggu Pemilu
JAKARTA – Wacana untuk memoratorium pemekaran daerah, sulit terwujud dalam waktu dekat. Departemen Dalam Negeri (Depdagri) bahkan sudah mematok, tidak akan pemekaran hingga 2009. Alasannya, pemerintah akan berkonsentrasi pada persiapan pemilu legislatif dan pilpres.“Pemilu merupakan agenda nasional. Secara logika, tentu kedua institusi (pemerintah dan DPR) akan memprioritaskan agenda nasional terlebih dahulu,” ujar Kepala Pusat Penerangan Depdagri Saut Situmorang kepada wartawan di Jakarta, kemarin.
Seperti diketahui, khusus untuk Sulsel ada dua kabupaten saat ini yang emperjuangkan pemekaran wilayah. Keduanya adalah Tana Toraja yang akan dimekarkan menjadi Toraja Utara dan Kabupaten Luwu yang diusulkan dimekarkan menjadi Luwu Tengah (Luteng).
Bedanya, pembahasan pemekaran Toraja sudah di pusat, sementara untuk Luteng, baru diserahkan ke DPRD Sulsel, pekan lalu.
Menurut Saut, usul pemekaran daerah akan dihentikan dulu karena pembahasan RUU Politik lebih diprioritaskan dibandingkan dengan pembentukan kabupaten/kota baru.
Dia menjelaskan, meski usul pemekaran 27 calon kabupaten, kota, dan provinsi baru telanjur masuk ke pusat, Depdagri meyakinkan tidak akan mengganggu agenda pemilu. Pemerintah dalam waktu dekat akan duduk bersama Komisi II DPR untuk mencari solusi atas usul pemekaran tersebut.
Saut mengatakan, sesuai ketentuan perundang-undangan, tidak haram melakukan pemekaran sepanjang usul tersebut memenuhi aturan. “Harus diperhitungkan juga bahwa pembahasan itu tidak akan mengganggu agenda nasional,” lanjutnya.
Dia menambahkan, untuk menyukseskan pemilu, Depdagri pekan ini menurunkan tim supervisi ke 59 kabupaten/kota untuk membantu menyusun data kependudukan yang berguna bagi data pemilih. Di antara 457 kabupaten/kota, 267 kabupaten sudah menyelesaikan data kependudukan.
Sebanyak 59 di antara 190 kabupaten/kota sedang dalam proses penyelesaian. “Harus kita bantu karena ada kesulitan. Bila tidak dibantu, bisa kritis, tak bisa tepat waktu menyelesaikannya pada April ini,” jelasnya.
Pada 10 Desember lalu, pemerintah mengeluarkan amanat presiden (ampres) untuk 12 RUU pembentukan daerah baru yang diusulkan DPR. Pada tanggal yang sama, DPR juga mengirimkan 15 RUU untuk pembentukan 15 daerah baru.
Ditemui terpisah, Agus Chondro, anggota Komisi II FPDIP DPR, mengakui sulitnya membendung usul pemekaran daerah. Apalagi semua persyaratan sudah dilengkapi. “Kalau secara teknis maupun administrasi sudah lengkap, apa mau ditolak?” katanya.
Menurut dia, penolakan untuk pemekaran justru akan menimbulkan gejolak. “Mereka akan tanya, kenapa yang ini dibahas dan yang ini tidak, itu menimbulkan diskriminasi,” tambahnya.
Agus berpendapat pemekaran bisa dijadwalkan jika pemerintah sudah mempunyai grand design daerah otonom. Dia mengungkapkan, Dirjen Otonomi Daerah Depdagri pernah berjanji menyelesaikan grand design tersebut setahun lalu.
“Tapi sampai sekarang, kami tagih terus, belum ada jawaban. Kalau sudah ada grand design-nya, kita bisa tahu dalam lima atau sepuluh tahun ke depan akan membentuk berapa daerah baru,” tegasnya.
sumber: fajar.co.id
2008, PNS Toraja Habiskan Rp246 M

TANA TORAJA -- Draf Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) Tana Toraja pada tahun 2008 menunjukkan, sebagian besar akan dihabiskan oleh pegawai.Berdasarkan draf Plafon Prioritas Anggaran Sementara (PPAS) yang sementara dibahas di legislatif, belanja pegawai dianggarkan Rp246 miliar atau 50 persen lebih dari total APBD 2008.
Wakil Ketua DPRD Tana Toraja, Marthinus G Lebang, yang ditemui usai rapat pembahasaan PPAS Minggu malam lalu, mengatakan, total APBD Tana Toraja untuk tahun 2008, kurang lebih Rp509 miliar.
Marthinus beralasan, besarnya alokasi anggaran untuk sektor belanja pegawai ini, disebabkan karena adanya rencana kenaikan gaji pegawai pada tahun 2008. Untuk itu, lanjut dia, pemerintah daerah telah mempersiapkan anggarannya tersebut dalam APBD 2008.
"Belanja pegawai tahun 2008 memang cukup besar, itu sudah termasuk rencana kenaikan gaji pegawai," ujarnya.
Namun legislator Partai Demokrasi Kebangsaan itu menolak menjelaskan item dan besaran kenaikan gaji yang dimaksud.
Menyangkut anggaran sektor pendidikan dan kesehatan juga kalah jauh dari belanja pegawai. Untuk sektor pendidikan, mendapat alokasi sebesar Rp45 miliar. Sementara untuk sektor kesehatan hanya dialokasikan Rp15 miliar.
Legislatif dan eksekutif Bumi Lakipadada yakin, pembahasan RAPBD rampung paling lambat 31 Desember mendatang. Sehingga tak ada pemotongan dana alokasi umum bagi daerah ini.
Untuk mencapai target tersebut, seluruh PNS dan legislatif yang terkait dengan pembahasan tidak bisa menikmati cuti bersama. Bahkan pembahasan PPAS dilakukan hingga malam hari.
sumber:fajar.co.id
Para Bupati Terkorup di Indonesia
1. Bupati Pandeglang, Banten, Achmad Dimyati Natakusumah. Achmad diduga terlibat kasus korupsi APBD Pandeglang tahun 2002 pada pembebasan tanah untuk lahan parkir Karangsari, Kecamatan Labuhan, dengan nilai Rp 3,5 miliar. Achmad diperiksa Kejati Banten sebagai saksi.
2. Bupati Bone Bolango, Gorontalo, Ismet Mile, diizinkan SBY diperiksa sebagai tersangka kasus korupsi pembangunan fasilitas penunjang objek wisata Lombongo, yang dikerjasamakan dengan pihak ketiga tahun 2003. Ia juga diduga menggunakan sisa ABT (Anggaran Biaya Tambahan) APBD 2003 dan penggunaan DAK (Dana Alokasi Khusus) non-reboisasi 2004, serta pembagian dana APBD 2004.
3. Bupati Sarolangun, Jambi, Muhammad Madel, diduga terlibat korupsi pembangunan dermaga ponton Rp 3,5 miliar. Kasus ditangani Kejati Jambi dan 3 Mei 2007 lalu diizinkan Depdagri untuk diperiksa sebagai saksi.
4. Bupati Garut, Jawa Barat, Agus Supriadi, diduga menyelewengkan APBD Garut 2004-2007 untuk kepentingan pribadi sebesar Rp 6,9 miliar. Agus sudah ditetapkan menjadi tersangka dan ditahan KPK sejak 26 Juli 2007 lalu.
5. Bupati Purwakarta, Jawa Barat, Lili Hambali Hasan, diperiksa Kejaksaan Tinggi Jawa Barat sebagai saksi dalam kasus dugaan korupsi dana bencana alam Rp 2 miliar dan kasus korupsi pembangunan gedung Islamic Center Purwakarta sebesar Rp 1,725 miliar.
6. Bupati Kendal, Jawa Tengah, Hendy Boedoro, telah divonis 5 tahun penjara oleh Pengadilan Tipikor 18 September 2007 atas penggunaan uang negara untuk kepentingan pribadi sebesar Rp 16,8 miliar.
7. Bupati Pemalang, Jawa Tengah, M Machroes, diperiksa Kejaksaan Negeri Pemalang selaku saksi terkait kasus dugaan korupsi proyek pengadaan buku ajar 2004 dan 2005 senilai total Rp 26,587 miliar.
8. Bupati Semarang, Jawa Tengah, Bambang Guritno, diadili dalam kasus penyimpangan APBD 2004 Kabupaten Semarang terkait pengadaan buku ajar SD/MI kelas I dan IV yang menyebabkan kerugian negara Rp3,365 miliar.
9. Bupati Wonogiri, Jawa Tengah, Begug Purnomosidi, beberapa kali diperiksa KPK terkait dugaan penyimpangan APBD Wonogiri.
10. Bupati Madiun, Jawa Timur, H Djunaedi Mahendra, merupakan tersangka
penyelewengan APBD 2001-2004 yang merugikan negara Rp 8,7 miliar. Kasus ditangani Polwil Madiun.
11. Bupati Magetan, Jawa Timur, Saleh Muljono, merupakan tersangka kasus dugaan korupsi pembangunan GOR Ki Mageti dan gedung DPRD Magetan senilai Rp 7,2 milliar. Ditetapkan tersangka sejak 29 Juni 2007 lalu.
12. Bupati Malang, Jawa Timur, Sujud Pribadi, diambil keterangan terkait kasus dugaan penyelewengan dana keagamaan senilai Rp 1,1 miliar dari total anggaran sekitar Rp 2,3 miliar. Kasus ini telah menyeret mantan Kabag Pemerintahan Sahiruddin sebagai tersangka.
13. Bupati Pamekasan, Jawa Timur, Achmad Syafii Yasin, diambil keterangan dalam kasus korupsi anggaran biaya tambahan sebesar Rp 3,5 miliar.
14. Bupati Pasuruan, Jawa Timur, H. Jusbakir Aldjufri, diperiksa sebagai saksi dalam kasus korupsi penggunaan anggaran proyek usaha peternakan Aliansi bekerja sama dengan Unibraw, Lousiana State University, American Brahmanan Breeuer Association. Kerugian negara diperkirakan Rp 3,5 miliar.
15. Bupati Sidoarjo, Jawa Timur, Wien Hendrarso, akan diperiksa dalam kasus dugaan korupsi belasan miliar rupiah pada proyek pengadaan tanah untuk Pasar Induk Agrobis (PIA) di Kelurahan Jemundo, Kecamatan Taman, Sidoarjo.
16. Bupati Situbondo, Jawa Timur, Ismunarso, ditetapkan tersangka pada 18 September 2007 dalam kasus dugaan korupsi raibnya dana kas daerah sebesar Rp Rp 45,750 miliar.
17. Bupati Ketapang, Kalimantan Barat, Morkes Effendi, diduga terlibat korupsi penyimpangan dana PSDH dan DR Kabupaten Ketapang dan korupsi proyek pengadaan air bersih Riam Berasap yang berpotensi merugikan negara sebesar Rp 42 miliar. Kejaksaan sudah mengajukan surat izin ke presiden yang dilayangkan dengan nomor R 308/3/2006, sejak 29 Maret 2006 untuk meminta keterangannya sebagai saksi.
18. Bupati Sintang, Kalimantan Barat, Milton Crosby, sedang menunggu izin pemeriksaan dirinya atas dugaan kasus korupsi penahanan Provisi Sumber Daya Hutan dan Dana Reboisasi (PSDH-DR).
19. Bupati Tanah Laut, Kalimantan Selatan, Ardiansyah, diajukan oleh Kapolri sebagai tersangka dalam tindak pidana korupsi pemberian izin illegal mining pada 2 Februari 2006. Namun belum diketahui perkembangan kasusnya.
20. Bupati Barito Selatan, Kalimantan Tengah, Baharudin H Lisa, akan diperiksa sebagai saksi kasus dugaan korupsi dana alokasi khusus dana reboisasi tahun anggaran 2004 dan 2005 di Kabupaten Barito Selatan.
21. Bupati Barito Utara, Kalimantan Tengah, Achmad Yuliansyah, status tersangka kasus dana lelang illegal logging Rp 3 miliar sejak 17 April 2006.
22. Bupati Lamandau Bustani, Kalimantan Tengah, Hj Mahmud, pada 3 Mei 2007 lalu diizinkan Depdagri untuk diperiksa sebagai tersangka kasus korupsi penyimpangan dana APBD 2004 dengan kerugian negara berdasarkan perhitungan BPKP sekitar Rp 12 miliar. Kejati Kalimantan Tengah telah mendapat izin penahanan dan pemeriksaan atas Bupati Lamandau dari Presiden.
23. Bupati Penajam Paser Utara, Kalimantan Timur, Yusran Aspar, dinonaktifkan 10 September 2007. Yusran merupakan tersangka penggelembungan dana pembebasan lahan 50 hektar di Babulu, Kecamatan Babulu Darat, sebesar Rp 5,8 milyar, seluas lahan yang rencananya akan dibangun perumahan pegawai negeri sipil.
24. Bupati Tulang Bawang, Lampung, Abdurachman Sarbini, diperiksa sebagai saksi kasus korupsi pengadaan kapal cepat dengan APBD tanpa persetujuan DPRD dengan nilai proyek Rp 4 miliar.
25. Bupati Dompu, Nusa Tenggara Barat, Abu Bakar Ahmad, divonis 2 tahun penjara oleh Pengadilan Tipikor atas korupsi dana tak terduga Pemkab Dompu 2003-2005 Rp 4,6 miliar. Lalu Abu Bakar diberhentikan berdasarkan Surat Keputusan Menteri Dalam Negeri tanggal 6 Desember 2006.
26. Bupati Lombok Barat, Nusa Tenggara Barat, Iskandar, diduga terlibat mark up tukar guling tanah Pemkab Lobar di Desa Sesela, Gunungsari, Lombok Barat, senilai di atas Rp 1 miliar lebih.
27. Bupati Kupang, Nusa Tenggara Timur, Ibrahim Agustinus Medah, merupakan tersangka dana proyek pengadaan 300 unit rumpon senilai Rp 3,9 miliar dan kasus Purnabakti DPRD Kabupaten Kupang Rp 1 miliar. Ketua DPD Partai Golkar NTT ini resmi tersangka sejak 21 Juli 2007.
28. Bupati Rote Ndao, Nusa Tenggara Timur, Christian Nehemia Dillak, merupakan tersangka kasus dugaan korupsi proyek pengadaan dua unit kapal ikan tahun 2002. Ditetapkan tersangka pada 20 Juli 2007 lalu oleh Polda NTT.
29. Bupati Timor Tengah Selatan, Nusa Tenggara Timur, Daniel Banunaeak, sebagai saksi dalam perkara tindak pidana penebangan pohon jati tanpa izin dari pejabat yang berwenang di kawasan Hutan Kutuanas, Desa Lelo, Kecamatan Atu Utara, Kabupaten Timor Tengah Selatan. Juga terkait kasus dana purna bakti Timor Tengah Selatan periode 1999-2004 sebesar Rp 1,4 miliar.
30. Bupati Jayawijaya, Papua, David Agustein Hubi, pada 3 Mei 2007 lalu diizinkan Depdagri untuk diperiksa sebagai tersangka pembelian fiktif dua pesawat Fokker 27 seharga Rp 8,6 miliar per satu unit, penyimpangan dana pengadaan/pengoperasian pesawat Antonov buatan Rusia sebesar Rp 3,9 miliar, biaya pengangkutan rangka baja dari Bandara Sentani ke Wamena sebesar Rp 2 miliar, dan pengadaan dua unit ground power senilai Rp 1,75 miliar. Total kerugian negara Rp 24,8 miliar.
31. Bupati Nabire, Papua, Drs Anselmus Petrus Youw, tersangka Korupsi APBD Kabupaten Nabire Rp 2,5 miliar. Ditetapkan jadi tersangka 5 November 2004 lalu oleh Polda Papua. Belum diketahui perkembangan kasusnya.
32. Bupati Pelalawan, Riau, Tengku Azmun Jaafar, telah ditetapkan KPK sebagai tersangka gratifikasi dalam penerbitan izin pemanfaatan kayu (IPK). Tengku Azmun diduga telah menerima dana gratifikasi Rp 600 juta.
33. Bupati Mamasa, Sulawesi Barat, HM Said Saggaf, diduga terlibat korupsi APBD senilai Rp 70 miliar. Namun Said hanya diperiksa selaku saksi.
34. Bupati Luwu, Sulawesi Selatan, Basmin Mattayang, diperiksa Kepolisian Daerah Sulawesi Selatan sebagai tersangka kasus korupsi Anggaran Pendapatan Belanja Daerah 2004 senilai Rp 1,05 miliar pada 18 Juli 2007 lalu.
35. Bupati Tana Toraja, Sulawesi Selatan, Johanis Amping Situru, bersama wakilnya, A Palino Popang, mendekam di balik jeruji Rutan Makassar. Orang nomor satu Tana Toraja itu menjadi tersangka kasus dugaan korupsi APBD Toraja 2003/2004 senilai Rp 3,9 miliar.
36. Bupati Morowali, Sulawesi Tengah, Andi Muhammad AB, pada 3 Mei 2007 lalu diizinkan Depdagri untuk diperiksa sebagai tersangka dalam kasus korupsi penyelewengan dana pemekaran senilai Rp 5 miliar.
37. Bupati Muaraenim, Sumatera Selatan, Kalamudin Djinab, status diambil keterangan dalam kasus korupsi proyek penggantian box culvert dan perbaikan jalan Tanah Abang-Modong.
38. Bupati Ogan Komering Ulu Selatan, Sumatera Selatan, Muhtadin Serai, tersangka dalam korupsi pembangunan proyek pasar tradisional Saka Selabung Muara dua. Pemeriksaan menunggu izin presiden.
39. Bupati Nias, Sumatera Utara, Bina B Bahaiak, tersangka kasus dugaan korupsi penggunaan dana PSDH senilai Rp 2,3 miliar. Dana ini digunakan untuk proyek pembangunan jalan di Nias. Kasus ditangani Kejari Gunung Sitoli.
40. Bupati Sleman, Yogyakarta, Ibnu Subiyanto, sebagai saksi (sebelumnya ditulis sebagai tersangka-red) atas dugaan korupsi pengadaan buku paket pelajaran SD-SMA yang merugikan negara hingga Rp 12 miliar. Kasus ditangani Polda DIY.
Penelitian Mumi Dipresentasikan dalam Lomba KIR 2006
*membandingkan mumifikasi yang dilakukan pada zaman Mesir Kuno dengan mumifikasi di Tanah Toraja*
SIC dalam lomba KIR 2006 di Gedung LIPI, Jalan Gatot Soebroto, Jakarta, Senin (11/9/2006) mengutus dua siswanya, yakni Hudaibiyah Nila El Fara (17) dan Majda Infiraj (15). Mereka mengirimkan karya berjudul "Mumifikasi pada Zaman Mesir Kuno (Studi Komparasi Mumifikasi Tanah Toraja di Indonesia)".
Mereka datang ke Indonesia tanpa bantuan dana dari KBRI sehingga mereka tidak ke Tanah Toraja untuk meneliti langsung.
LKIR ke-37 ini diikuti oleh 255 peserta yang berasal dari 100 SMA dari 56 kota dan 20 provinsi di Indonesia.
Dalam presentasinya, kedua siswa tingkat SLTA itu mencoba membandingkan mumifikasi yang dilakukan pada zaman Mesir Kuno dengan mumifikasi di Tanah Toraja.
Menurutnya, mumi di Mesir dan di Indonesia memiliki kesamaan dalam kepercayaan yang dianut oleh masyarakatnya dan isi kuburan dari mumi tersebut. Perbedaan kedua mumi itu berasal dari bahan pembalseman, cara penguburan, tradisi proses mumifikasi, masa berlakunya tradisi, posisi mumi, bahkan sampai penyebutan mumi.
Pada zaman Mesir kuno, mumi disebu mummmiyaa, sedangkan masyarakat Tanah Toraja menyebutnya kasabandiyah. Namun ada persamaan, yakni isi kuburan itu berisi barang keseharian yang dipakai sewaktu masih hidup dan mereka percaya barang tersebut akan dibutuhkan setelah mati.
Para juri yang menilai karya ilmiah dua siswa SIC itu melihat teknik serta data masih sangat lemah. Hasil karya itu masih sangat kurang sekali wawancara, demikian juga aspek pembanding dua mumi itu masih belum signifikan.
Meski demikian, penelitian mumi itu cukup menyedot perhatian hadirin.
Monday, September 3, 2007
Pengusaha Hotel Terancam Gulung Tikar,1.200 Kamar Kosong

MAKALE -- Pengusaha hotel dan penginapan di Tana Toraja (Taror) terancam gulung tikar. Setiap hari, sedikitnya 1.200 kamar hotel dan penginapan kosong. Hal ini terjadi lantaran semakin terpuruknya pariwisata di daerah dataran tinggi tersebut.Bupati Tana Toraja (Tator), J Amping Situru, mengakui hal tersebut. Namun Amping menuding, keterlibatan ini sebagai akumulasi dari berbagai persoalan. "Ini akumulasi dari persoalan yang sudah menglobal di tingkat nasional dan internasional," kata Amping, Jumat 31 Agustus.
Menurut Amping, semua pihak harus bertanggungjawab untuk membangkitkan gairah pariwisata di Toraja. "Kini banyak hotel berbintang di Toraja terancam gulung tikar alias bangkrut," ungkap Amping.
Padahal di era 80-an, jumlah wisatawan asing maupun lokal yang datang ke daerah itu melebihi jumlah penduduk Bumi Lakipapada itu sendiri. "Inikan jelas kejadiannya bukan di Tator, tetapi imbasnya sangat signifikan bagi daerah ini. Untuk Tator, saya jamin dari dulu hingga sekarang tetap kondusif," ucapnya meyakinkan.
Tak hanya itu, Amping juga berkilah tentang pelarangan penerbangan nasional ke Uni Eropa. Larangan ini pun dianggap berdampak langsung terhadap tingkat hunian hotel. Seperti yang dialami Heritage Hotel, di Rantepao.
Akibat pelarangan itu, 600 kamar di Heritage Hotel yang sedianya sudah siap menampung wisatawan dari Eropa ke Tator menjadi kosong. Penyebabnya, para wisatawan dilaporkan membatalkan kunjungannya ke Tator setelah adanya larangan terbang tadi.
Amping memaparkan, saat ini jumlah kunjungan wisatawan ke Tator tersisa lima persen saja. "Kami banyak berharap turis mancanegara yang melancong ke Bali bisa langsung datang ke Tana Toraja. Target kita cukup 10 persen saja, itu sudah cukup untuk membangkitkan kembali gairah pariwisata di daerah ini," harap Amping.
sumber:fajar.co.id
photo by inexography,ImanBalao
Prosesi Adat pada Hari Jadi Tana Toraja

PERINGATAN ke-760 Hari Jadi Kabupaten Tana Toraja yang juga merupakan hari ulang tahun (emas) yang ke-50, diisi pelbagai pentas seni. Salah satu adalah pentas "Marok", sebagaimana tampak dalam puncak acara, Jumat, 31 Agustus.
"Marok" merupakan prosesi adat istimewa sebagai ungkapan suka cita warga Tana Toraja. Ini adalah atraksi budaya terbesar di Bumi Lakipadada yang diperingati setiap tahunnya.
Beberapa peragaan budaya lainnya yang disuguhkan di antaranya tarian massal Pagellu. Kali ini, pesertanya terbanyak sejak ada pementasan Pagellu di Indonesia, yaitu 6.000 siswi SMP dan SMA yang ada di Kabupaten Tator. Ada juga ditampilkan Pasisembak Lidi yang dibawakan anak-anak muda Tator.
Masyarakat Tator sangat antusias mengikuti rangkaian peringatan hari jadi itu. Sejak pagi warga sudah tumpah ruah di lokasi pameran. Mereka berdesakan menyaksikan pagelaran prosesi adat Toraja hingga tuntas.
Acara di Lapangan Kodim 1414 ini dibuka sekitar pukul 08.30 Wita, ditandai dengan defile peserta yang terdiri atas 40 kecamatan. Termasuk juga kantor dinas dan badan. Acara budaya yang tak kalah menariknya adalah pengibaran bendera Tator.
Acara tersebut ditutup dengan pementasan artis ibukota dan lokal yakni Hary Mantong Indonesian Idol. Pementasan ini dilakukan pada malam, termasuk peragaan Musik Etnik Kontemporer.
Ketua Panitia, Y.S Dalipang mengatakan, peringatan HUT Tana Toraja kali ini lebih spesial jika dibandingkan dengan perayaan HUT sebelumnya. Pasalnya, kata Sekkab Tana Toraja ini, selain diisi oleh atraksi "Marok", panitia juga menampilkan pentas seni tari massal dan pawai drum band yang diikuti 30 kelompok.
"Ini memang lebih spesial, karena selain atraksi 'Marok' dan pentas Seni, kami juga menampilkan seni yang selama ini sudah hampir punah. Atraksi ini diperankan oleh masyarakat dari seluruh kecamatan yang ada di Tana Toraja," ujar YS Dalipang.
Bupati Tana Toraja, J Amping Situru menambahkan, Hari Jadi Toraja ini diperingati seluruh masyarakat dengan penuh rasa suka cita. "Namun, bukan berarti kita berhura-hura," tandasnya...
~fajar.co.id~
photoby~inexography
Sunday, May 20, 2007
PNS Toraja Ancam Mogok Kerja
MAKALE -- Pegawai Negeri Sipil (PNS) selingkup Pemkab Toraja mengancam melakukan aksi mogok kerja mulai Senin, 21 Mei. Ini sebagai bentuk keprihatinan mereka atas penahanan Bupati dan Wakil Bupati Toraja, J Amping Situru dan A Palino Popang. Bahkan, aksi mogok telah dilakukan PNS, termasuk para pejabat Pemkab, sejak Rabu, 16 Mei lalu.Memang, sejak Rabu itu, kantor bupati dan unit kerja Pemkab lainnya sepi. Kalaupun ada PNS yang terlihat di kantor-kantor, jumlahnya sangat terbatas. "Sebagian besar PNS mulai mogok kerja. Aksi mogok kerja besar-besaran akan dilakukan Senin nanti," kata seorang PNS di kantor bupati, Rabu lalu.
Kepala Badan Pengelola Keuangan Daerah (BPKD) Toraja, Ayub Toding Allo, mengakui, para PNS dan pejabat melakukan mogok kerja, sebagai bentuk keprihatinannya atas penahanan bupati dan wakil bupati. "Kami sebagai bawahan bupati dan wakil bupati prihatin atas musibah yang dialami bupati dan wakilnya. Sebagai bentuk keprihatinan itu, kami akan mogok kerja," katanya.
Berbeda dengan para guru, aktivitas pendidikan di Toraja sejak Rabu lalu itu tetap normal. Proses belajar mengajar tetap berjalan seperti biasa. Sampai Jumat kemarin, belum diperoleh informasi apakah para guru akan ikut aksi mogok tersebut.
enbee:Sekalian aje masuk penjara cama2.
Saturday, May 12, 2007
Amping Mendadak Dilarikan ke RS.
(Tiga Jam Setelah Konconee Di Tahan)...
Kondisi kesehatan Bupati Tana Toraja, J Amping Situru, dikabarkan menurun drastis setelah mengetahui wakilnya, A Palino Popang dijebloskan ke rumah tahanan (Rutan) Kelas I, Makassar, Rabu 9 Mei, lalu. Hanya berselang tiga jam setelah Popang dirutankan, Amping dilarikan ke RSUD Lakipadada Makale, Rabu malam, pukul 18:00 Wita.Kondisi yang sama dialami CL Palimbong, mantan Wakil Bupati Toraja periode lima tahun lalu. Palimbong yang
juga ditetapkan tersangka kasus dugaan penyalahgunaan APBD Tana Toraja 2003/2004 senilai Rp3,9 miliar itu, bersama Amping mendadak sakit.
Baik Amping dan Palimbong, Kamis kemarin, masih dirawat di rumah sakit. Amping dirawat di ruangan VIP lantai dua kamar 4 RSUD Lakipadada. Sedangkan Palimbong, dirawat inap di ruangan VIP kamar Melati I RS Elim, Rantepao.
Seorang perawat di RS Elim mengaku, Palimbong sudah dua hari dirawat inap. “Ia (Palimbong, Red) dirawat sejak Selasa malam,” katanya, seraya minta namanya tidak dikorankan.
Sejak dirawat di RSUD Lakipadada, kerabat dekat maupun pejabat Pemkab, ramai menjenguk Amping. Bahkan, sejumlah anggota dewan, ikut menjenguk orang nomor satu di daerah bergelar lepongan bulan itu. Di antara anggota dewan yang menjenguk Amping, yakni PS Panggalo SE dan Ir Richard Patta Ranteallo.
Kendati banyak penjenguk, dokter yang merawat bupati Toraja ini melarang tamu masuk ke ruangan perawatan. Para pembesuk hanya terlihat menunggu di luar ruangan. Mereka, di antaranya; Camat Buntao Rantebua, Lince Kondorura; Camat Rantepao, Anton Barrung; Camat Rindingallo, Yulius Tandiseno.
Selama dirawat inap di RSUD Lakipadada, orang dekat bupati mengakui, Amping hanya dijaga istrinya, Ny Edelheid Amping Situru.
Berbeda dengan Amping, CL Palimbong yang telah dua hari dirawat, selama dirawat jarang dijenguk pejabat eksekutif ataupun legislatif. Yang menjenguk Palimbong, hanya kalangan keluarga dekatnya saja.
enn bee:
ko waktu nikmatin duitna ga pada sakit sihh??
Wabup Toraja Shock
Kejaksaan Negeri (Kejari) Makassar kembali menempuh langkah tegas terhadap tersangka korupsi di daerah ini. Kemarin, giliran Wakil Bupati Tana Toraja Andrianus Palino Popang yang dijebloskan ke Rutan Kelas I Makassar.Mengetahui bahwa dirinya resmi ditahan, Popang yang tak lain mantan Sekretaris Kabupaten Tana Toraja ini, langsung shock. Tubuhnya lemas, bahkan nyaris pingsan. Untungnya, petugas kejaksaan bertindak cepat dan segera memeriksa kesehatan orang nomor dua di bumi Lakipadada ini.Setelah kondisinya mulai membaik, Popang di minta oleh tim jaksa untuk segera ke Rutan,tanpa perdebatan yang panjang, Popang pun menuruti perintah para jaksa. Ia langsung meranjak dari ruang Kasi Pidsus Kejari Makassar, Amir Syarifuddin SH. Di ruangan ini, Popang memang sempat menjalani proses kelengkapan administrasi selama kurang lebih tiga jam.
Dengan pengawalan esktra ketat dari petugas Polsekta Makassar Barat, serta beberapa jaksa, Popang berjalan keluar sembari mendekapkan kedua telapak tangannya di dada, layaknya orang yang sedang berdoa.
Sebelum dijebloskan ke rutan, jaksa sebenarnya sudah menanyakan prihal kesehatan tersangka kasus dugaan korupsi APBD Tana Toraja senilai Rp3,9 miliar itu. Hanya saja, Popang menolak diperiksa dokter.
“Tidak perlu. Kondisi saya sudah pulih,” kata Popang yang didampingi penasihat hukumnya, Hasman Usman, SH dan Jhon Paulus, SH.
Tapi mengapa hanya Popang, bukankah Bupati Tana Toraja Amping Situru dan mantan Wabup Toraja CL Palimbong juga menjadi tersangka kasus ini? Menurut Aspidsus, kedua tersangka itu (Amping dan Palimbong) saat ini sedang sakit. Sehingga, berkasnya belum bisa diserahkan ke ke Kejari Makassar bersamaan dengan penyerahan berkas Popang.
Sikap Kejati Sulsel yang cukup kooperatif dengan Amping dan Palimbong, dinilai oleh aktivis antikorupsi, Jusman, SH, sebagai tindakan yang diskriminatif. Apalagi, kata Jusman, Amping dan Palimbong sudah dua kali dipanggil penyidik namun selalu beralasan sakit.
“Tidak ada alasan bagi Kejati Sulsel untuk tidak menahan semua tersangka dalam kasus ini. Jika perlu, jaksa harus melakukan penjemputan paksa di kediaman Amping dan Palimbong di Tana Toraja,” kata Jusman.
een bee:
"Kok baru ingat Tuhan bos??"
Wednesday, April 11, 2007
FORT ROTTERDAM

Ford Rotterdam is one of the best-preserved examples of Dutch architecture in Indonesia. This old fortress on Jl. Ujung Pandang, overlooking the harbour right in the heart of the city, is one of the principal attractions of Ujung Pandang. Rebuilt in Dutch style the fort now bears the rather more nationalistic title of Benteng (Fort) Ujung Pandang.
The fort's big La Caligo Museum consists of 2 buildings, one covering ethnology and the other history. See the assortment of exhibits including rice bowls from Tanah Toraja, prehistoric kitchen tools from South Sulawesi, musical instruments from Manado and various traditional marital costumes. The gift shop sells beautiful Bugis sarung of pure silk.
It's open Tuesday to Thursday 0800 - 1400 pm., Friday 0800 - 11.30 pm., Saturday & Sunday 0800 - 12.30 pm. Monday and holidays closed. Entrance is 7500 Rp. adults, 2500 Rp. children (maybe more for now).
Wednesday, March 14, 2007
RELIGION CEREMONIES
Rambu Solo’ is a series ceremonies for the dead, and is also called Allu Rampe Matampu’ meaning Ritual of the west, the direction which is connected with death.
Death is a sad event but for the people of Toraja it is also an occasion for happiness, a celebration of the passage of the soulk to puya, the
The most important ceremony in the life of Torajans, Rambu Solo’ is a series of ceremonies celebrated by the kinship group and participated by the community in a festive atmosphere.
There are several types of funeral ceremonies depending on the status of the dead, his or her social class and wealth, as well as the area. The higher the castle, the more elaborate are the ceremonies. Those of the lowest tana’ kua-kuatana’ bulaan hold two different rituals and sacrifi many buffaloes and pigs. The ceremonies last several days and they are highly publicized and attract many visitors to the area. or slave class, have very simple rituals while the nobility
Since the many offerings received help the soul of the dead to reach the status of deity, the funeral ceremonies can be very expensive to the family and it can take place months or years after death.
The ranbu solo’ besides providing for the soul of the dead, is meant to signify the social status of the family and is an opportunity to repay favous and gifts received by the dead person during his or her lifetime. One most important function of these ceremonies is the division of the inheritance, for whoever, son or daughter, contributes the most buffaloes for the sacrifice at the funeral feast, he or she is entitled to a greater share of the inheritance.
As wealth and power are needed to reach Puja, Torajans aspirate to accumulate wealth and power during their lifetime so that they can hold a death ritual befitting their status.
Accrding to Toraja beliefs, a dead person is considered a sick person until the death rituals begin. Called tomasaki ulunna, meaning one whose hesd sick, the corpse is kept in the special place in the house reserved for that purpose. Meanwhile. The soul departs through the head and wanders in the village. Still the dead is regarded as asick person and is treated as such and laid with the head to the west. Meals are placed by the side of the corpse, and neighbours and relatives came calling, bringing betel nuts and tobacco.
There is nothing unusual about the family sleeping in the same rooms as a corpse. Any decaying smell is ignored althougth now there are more cases of embalming or enclosing the body in a temporary coffin, with a bamboo cylinder extending from it like a narrow chimney to carry the smell out of the house.
This is the time for the funeral prepations and the kinship group start to save money and collect rice for the death ritual. It is scheduled when all relatives can be a matter of days, weeks, months and even years.
The “sick” person becomes tomate really ead when the rituals begin. On the ma’karu’ dusun day, sacrifice of a buffalo indicates the real death. Its innards are cooked in a bamboo container and offered with palm wine to the dead.
From this day, the relatives start their mourning, eating no meat or rice. The body is moved from the southern room to the centre room and laid wuth the head pointing south. As this is a position for the dead, it is taboo for the living to sleep with their heads pointing south.
For the nobility, this is the first ritual for the dead and can last for seven days. Many buffaloes and pigs are sacrifieced and the corpse is symbolically wrapped and put into a temporary bangka, coffin, hich is then placed in the the western part of the Sali or centre room.
Some tme passed befor the second rituals is held. Preparations include the construction of temporary houses around the rante or ceremonial field. A simbuang batu, ceremonial stone and palm tree are erected as aplace to tie the buffaloes, a bala kayan, meat tower and lakkian, a tower for the dead in the shape a tongkonan house are built.
When all is ready, the corpse is taken out of the temporary coffin, and is hung for a few days from the ceiling of the house before being removed to the base of the rice barn, opposite the house. Here it is wrapped in a decorative funerary sack by the death priest.
Then it is time for the funeral procession with the wrapped corpse carried in Tongkonan-shaped bier with widow or widower following in a chair covered with a black canopy. The effigy made in the image of the ded, is accompanied by gong beaters, war dances and buffaloes. The mouerners dressed in black, hold a red length of cloth, which extends from the bier, over their heads.
RELIGION
Aluk Todolo, the ancestral religion, is still followed by a small minority of Torajans today as more and more are converting to Christianity.
According to 1981 statictics, the majority of the people of Toraja are Protestan, about 66%; followed by 12% Catholics,about 7% Moslem and only 15% are adherents of Aluk todolo. Still most Torajans follow the traditional customs of their ancestors.
Officialy recognized as related to Hindusm, Aluk Todolo has a panthem of gods and the supreme God is Puang Matua (the old lord) who also the Creator. It is he who unified all gods, created mankid and all other creatures.
According to the Toraja myth of creation, before there were gods, there was heaven and earth. The universe created the gods and Heaven and Earth were the first parents of Pong Tulak Padan (he who supports the Earth), Pong Banggai Rante (he whose plain is large) and Gaunti Kembong (selfexpanding cloud). Together they grew up and formed the trinity and created the sun, moon and the stars.
They separated to become Lords of the underworld, the earth, and the upperworld. Gaunti Kembong, the lord of the upperworld, removed a rib who became Usuk Sang Bamban (the one special rib) who grew up and married Simbolong Manik who emerged from stone in the east. From their union, Puang Matua was born.
As in the upperworl, the earth is supposed to have a head (ulu), which faces north (daya, rekke) and a tail (ikko’) which faces south (lo’sau,) east(lan, tama) is for sunricse while west (diong, rokko) is linked with sundown. Based on this, north and east are considered the sphere of life and south and west of death. By this same nation, the north and east are the domain of the gods, protectors of plants, domestic animals and human-life, while south and west is where the souls of thedesd reside until the completion of the direction of southwest.
From the land of the souls puya, the ancestors after completion of the death rituals, are deified and enter heaven via a palm tree. As wedding ceremonies.
The sacrificial ritual of the east or ranbu tuka, which mans “smoke ascending” is held on the east or northeast of the tongkonan and the priest faces east.
Rambu solo’ “smoke descending” is the sacrificial ritual of the west and is held at sundown, on the west side of the house.
The rituals in this category are those for the dead, aluk tomate perfomed by the tomebalun such as offering to the souls, slaughter of animals for the dead and the wrapping of the corpse. The tomebalun or death priest is usually shunned and only visits homes when there is a death in the family.
Observance of the religion insolves the performance of various aluk ceremonies and avoiding certain taboos.
HISTORY
The real name of Toraja was Tondok Lepongan Bulan Tana Matarik Allo which means “ a country of one administration, religion and culture as rounds as the moon (bulan) and the sun (allo).”
The Toraja came into existence in the 17th century, coined by the Bugis of Luwu from To-ri-ja meaning to (people), ri (from), aja (inner west). Another version says it means “men of the mountains.”
According to same sources, the early Torajans migrated from southeast Asia, probably
Somewhere in the southwest and up the Sa’dan river, setting in what is now the Enrekang area. As new waves of migration occurred, the earlier groups were forced to retreat into the mountains where they wandered under the leadership o Puang Pararrak. There were 40 arruan (groups), coordinated under a Tangdino. Then came the Tomanurun, meaning people descended from heaven, led by Tamborolangi’ who introduced new agricultural method, the caste system and the practice of the seath rituals.
The early settlers coming in boats set the patern of the prowshaped roofs of the tongkonan houses as they converted thir boats into houses, having no place to live.
A legend tells of the tomanurun, who were celestial beings and descended on the mountain peaks. One of them, Tomanurun Tamborolangi’,lived in kandoro. He had son, Puang Sanda Boro who ruled the southern part of Padang di Puangngi and two sons. One of them, Lakipadada, went in search of eternal life and arrived in Gowa (the mighty kingdom in the south) and so impressed the king that he was given the princes in marriage. They had three sons who grew up to each rule Gowa, Toraja and Luwu. They were known as the Tallu Botto (top Three).
Legend and actual history seem to be interwoven as the royal regalia kept in Kaero Sangalla are believed to belong to Patta Labantan, the first son of Lakipadada and Karaeng Tarallolo, who ruled Toraja.
There seemed to be contacts between Toraja and java in the 15thth century, war broke out with Bone. Toraja was defeted by Aru Palaka of Bone but five years later the Torajans resisted and defeated the intruders. Islam was introduced by coffe and slave traders, but only a small part in the south, Duri, was converted. century, through traders. Also with the Bugis who sold Indian cloth, Dutch coins and Porcelain. However , there was always some friction and in the 17
Several years later a peace treaty was signed.
The Dutch first arrived in Toraja in 1905 from the north, during a period of internal conflict. Under Pong Tiku, the Torajans fought a losing battle against the superior forces of the Dutch and two years later Toraja fell under the rule of the
Not long sfter, in 1913, protestant missionaries arrived, followea by the Catholics in 1937. Between the Dutch and Dutch colonial government and the Missionary Alliance of the Dutch Reformed Church, many changes were brought about in education, traditional life and political structure.
Toraja has gone through several administrative changes, and is now administered by a bupati (district head) posted in Makale who reports to the governor of
THE PEOPLE
The population of Toraja is about 332,000 and it has a high rate of emigration by high school graduates seeking further education or jobs in the more urbanized areas of Sulawesi or the more develoved islands of
Population density is about 92 persons to a square km, most of whom are engaged in agriculture. All farms belong to smallholders. Rice is the main crop, and secondary crops are corn, peanuts, soyabean, cassava, sweet potatoes, vegetable, coffee, cloves, nutmeg, vanilla and fruit. The mountain grown coffee is exellent and alsowellknown is the passionfruit or marqisa which is processed for its jice, bottled and exported. Palmwine (tuak, or in Toraja ballok) which is found throughout
The Torajans are belived to belong to the same Proto-Malay groups as the Dayaks of Kalimantan and the Bataks of Sumatra. However, there are many similarities ethnologically between them and the people of ancient
From early times, the society was divided into classes with the nobles at the top of the social structure and the slaves, who were either hereditary or enemies who, were captured in the battle, lowest ranking.
The caste system was widely practiced in Toraja and consiste of :
Tana’ bulaan referring to the noble class who functioned as adapt chiefs using titles such as Puang, siambe’ and ma’dika.
Tana’Bassi, the lower noble class of assistant adapt or traditional chiefs or members of the community councils.
Tana’ karurung the commeners, among them priests.
Tana’Kua-kua, the lowest class of slaves and workers, including the death priests or tomebalum.
Still practiced to same extent today, the caste system is a adhered to during traditional rituals, particularly the death ceremonies for which no one can aspire to rites intended for a higher caste.
The social structure allows equals right for men and women, especially in inheritance for which neither sex nor age is of any consideration. Division of inheritance dep[ens wholly on service to the deceased during his/her lifetime and the and the contributions made by members of the ramage, kinship group at the death ceremonies.
Hiltops were considered sacred by the Torajans as the first ancestors descended there, and village were formerly built on the summits. Fortified walls surrounded the villages, providing a defensive shield against enemies. However in the early parts of this century when Toraja came under Dutch rule, the people were ordred to move to more accessible valleys and plateaux. The village complex consist of separate farms, surrounded by paddyfields, the rante where the rites for the dead are held and the rocky clifft where the burial caves are located.
The village is further divided into two parts, high and low, each one forming a ceremonial bua’ circle unit.
Buffaloes represent a status symbol used chiefly for ceremonial purposes and are not considered as draft animals. They are slaughtered for sacrifice during the funeral ceremonies and the meat eaten. Pigs and chickens are also slaughtered and eaten at ceremonies, such as funerals and the consecration of new tongkonan.
As the death rituals are the most important ceremony in a person’s passage of life, wealth and power are important to attain the status needed to enter Puya (
The Torajans speak an Austronesians language related to that Bugis of South Sulawesi. Referred to as the Sa’dan Toraja Language, it is divided into thre dialects; the Makale-Rantepao dialect of east Toraja, in the west Saluputti-Bonggga Karadeng and in the south Sillanan-Gandang Batu. The language as used by the ritual priests differ from those used by the ordinary people and are sometimes diffiocult to undersatand.
Since Bahasa Indonesia is the language of instruction and administration it is understood and spoken by all, and English is becoming a popular second language in schools.
In spite of improved education and migration ti other parts of the country, the people of Toraja remain tid to their ramage and kinship groups, retuning for funerals and, if they should die away from their homeland, every efforts is made to return then for the ;last funeral rites.



